Jakarta, ftpi.or.id – Sportivitas, semangat juang, dan pantang menyerah merupakan nilai utama yang harus terus dijaga dalam perkembangan olahraga tinju Indonesia. Di tengah berbagai keterbatasan dan tantangan organisasi, para atlet diharapkan tetap memiliki kesempatan untuk berlatih, bertanding, serta mengembangkan potensi demi meraih prestasi di tingkat nasional maupun internasional.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Tinju Amatir Indonesia (PP PERTINA), Hillary Brigitta Lasut, S.H., LL.M., saat diwawancarai MataMediaOnline.com seusai penutupan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Tinju Piala Menko Infrastruktur 2026 di Pluit Village Mall, Jakarta Utara, Minggu (25/10/2026).

Hadir dalam kegiatan tersebut Neneng. A. Tuty SH, ketua umum Federasi Tinju Profesional Indonesia (FTPI) dan Dewan pengawas FTPl – Yance Rahayaan.

Kejurnas yang berlangsung pada 19–25 Oktober 2026 itu mempertemukan petinju dari berbagai daerah dalam kategori junior, youth, dan elite. Lebih dari sekadar perebutan kemenangan, kejuaraan ini menjadi ruang bagi para atlet untuk menunjukkan kemampuan, membangun mental bertanding, serta menjunjung tinggi sportivitas di atas ring.

Menurut Hillary, kemenangan dalam olahraga tidak semata-mata ditentukan oleh hasil pertandingan. Sikap menghormati lawan, menaati peraturan, menerima keputusan pertandingan, dan berani mengakui kekurangan merupakan bagian penting dalam membentuk karakter seorang atlet.

Ia menilai, kompetisi seperti Kejurnas memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai tersebut sejak dini. Para petinju tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknik dan fisik, tetapi juga kedisiplinan, pengendalian diri, serta tanggung jawab dalam setiap pertandingan.

“Situasi saat ini memang tidak mudah. Indonesia menghadapi berbagai tantangan, sehingga kita harus mencari langkah-langkah kreatif agar pembinaan dan prestasi olahraga tetap berjalan. Jangan sampai keterbatasan menjadi penghalang bagi atlet untuk berkembang dan menunjukkan kemampuan terbaiknya,” ujar Hillary.

 

Kolaborasi untuk Pembinaan Atlet yang Berkelanjutan

Hillary menjelaskan bahwa penyelenggaraan Kejurnas Tinju Piala Menko Infrastruktur 2026 melibatkan kolaborasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Kementerian Transmigrasi, Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Ekonomi Kreatif, serta sejumlah badan usaha milik negara (BUMN).

Menurutnya, kerja sama lintas sektor menjadi salah satu langkah untuk memperkuat ekosistem olahraga nasional. Dukungan berbagai pihak diharapkan dapat memperluas akses pembinaan, meningkatkan kualitas kompetisi, dan membuka peluang bagi lebih banyak generasi muda untuk menekuni olahraga tinju.

Ia menegaskan bahwa pembinaan atlet tidak boleh berhenti pada penyelenggaraan sebuah kejuaraan. Setelah pertandingan berakhir, para petinju tetap membutuhkan program latihan yang terarah, pendampingan pelatih, fasilitas yang memadai, serta kesempatan mengikuti kompetisi secara berjenjang.

Dengan dukungan tersebut, atlet diharapkan dapat mengevaluasi penampilan, memperbaiki kelemahan, dan meningkatkan kemampuan tanpa kehilangan motivasi untuk terus berprestasi.

Sportivitas Harus Berjalan Seiring dengan Kepastian Organisasi

Di balik semangat para petinju yang bertanding, Hillary juga menyoroti pentingnya kepastian kelembagaan dalam mendukung pembinaan olahraga nasional.

Ia menyampaikan apresiasi kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan berharap persoalan kelembagaan yang berkaitan dengan PERTINA memperoleh kejelasan. Menurutnya, penyelesaian persoalan organisasi perlu dilakukan secara konstruktif, dengan mengutamakan kepentingan atlet dan keberlangsungan pembinaan.

Hillary mengingatkan bahwa PERTINA memiliki sejarah panjang dalam perkembangan tinju Indonesia sejak 1959. Karena itu, ia berharap aspek legalitas dan keanggotaan organisasi mendapatkan perhatian dalam proses penataan kelembagaan olahraga nasional.

“Kami berharap ada ketegasan dalam menyikapi persoalan organisasi olahraga. PERTINA memiliki sejarah panjang sejak 1959. Kami juga berharap dukungan pembinaan dan anggaran dapat diarahkan kepada organisasi yang memiliki potensi menyumbangkan medali bagi Indonesia,” katanya.

Bagi Hillary, dinamika kelembagaan seharusnya tidak mengurangi kesempatan atlet untuk berlatih dan bertanding. Setiap kebijakan yang berkaitan dengan olahraga prestasi perlu mempertimbangkan keberlanjutan pembinaan serta kepentingan para atlet yang sedang mempersiapkan diri menghadapi kompetisi berikutnya.

Ia berharap seluruh pemangku kepentingan dapat mengedepankan dialog, profesionalisme, dan tanggung jawab agar perbedaan maupun persoalan organisasi tidak menghambat masa depan tinju Indonesia.

Gizi dan Pembinaan Sejak Dini untuk Melahirkan Atlet Berkualitas

Selain pembinaan teknik dan mental, Hillary menyoroti pentingnya pemenuhan gizi anak sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia dan persiapan generasi atlet masa depan.

Dalam olahraga tinju, kondisi fisik, daya tahan, kekuatan, serta pengelolaan berat badan merupakan unsur penting yang harus diperhatikan. Setiap atlet memiliki kebutuhan yang berbeda sesuai usia, kondisi tubuh, kelas pertandingan, dan intensitas latihan.

Karena itu, pemenuhan gizi yang seimbang perlu disertai pendampingan yang tepat agar perkembangan fisik atlet berlangsung secara sehat dan terukur.

“Kami melihat bahwa gizi anak-anak Indonesia memang perlu mendapat perhatian. Dalam tinju, atlet bertanding berdasarkan kelas berat badan. Karena itu, pemenuhan gizi dan pembinaan fisik yang tepat menjadi bagian penting dalam mempersiapkan atlet,” ujarnya.

Hillary berharap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat memberikan manfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak Indonesia, termasuk mereka yang memiliki minat serta potensi di bidang olahraga.

Menurutnya, atlet berkualitas tidak lahir secara instan. Prestasi merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan latihan disiplin, pola hidup sehat, dukungan keluarga, pendampingan pelatih, dan kesempatan berkompetisi.

Terinspirasi dari Perjuangan Petinju Daerah

Salah satu hal yang paling membekas bagi Hillary selama menyaksikan Kejurnas adalah semangat para atlet yang tetap berjuang meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.

Ia melihat banyak petinju yang rela mengorbankan waktu dan tenaga untuk menjalani latihan serta mengikuti kompetisi. Sebagian dari mereka juga harus membagi waktu antara pendidikan dan olahraga demi mengejar cita-cita menjadi atlet berprestasi.

“Saya melihat sendiri bahwa semangat atlet-atlet PERTINA jauh lebih besar daripada saya. Di tengah keterbatasan, mereka tetap berjuang, mengorbankan waktu dan tenaga, bahkan waktu belajar mereka, untuk mengembangkan prestasi,” ungkapnya.

Bagi Hillary, perjuangan tersebut merupakan cerminan dedikasi yang layak mendapatkan penghargaan. Semangat para petinju harus dijawab melalui dukungan nyata, bukan sekadar apresiasi setelah pertandingan berakhir.

Ia menilai, setiap atlet berhak memperoleh kesempatan yang adil untuk berkembang, terlepas dari daerah asal maupun keterbatasan fasilitas yang dimiliki. Kejuaraan nasional menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan talenta dari berbagai daerah sekaligus membuka ruang bagi atlet untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Dalam kompetisi, setiap petinju memiliki perjalanan dan tantangan masing-masing. Ada yang berhasil meraih kemenangan, ada pula yang harus menerima kekalahan. Namun, keduanya tetap memiliki kesempatan untuk belajar, mengevaluasi diri, dan kembali berjuang dengan persiapan yang lebih baik.

Nilai itulah yang menurut Hillary perlu terus ditanamkan dalam olahraga tinju: menghargai proses, menghormati lawan, dan menjadikan setiap pertandingan sebagai bagian dari perjalanan menuju prestasi.

Jangan Biarkan Semangat Atlet Padam oleh Keterbatasan

Hillary berharap para petinju Indonesia tidak kehilangan motivasi akibat keterbatasan anggaran, tekanan, maupun dinamika organisasi. Ia menilai, semangat juang atlet merupakan modal penting yang harus dijaga melalui sistem pembinaan yang konsisten dan berkelanjutan.

“Semangat mereka jangan sampai luntur oleh waktu, tekanan, maupun berbagai persoalan. Mereka sudah menunjukkan perjuangan yang luar biasa. Tugas kita adalah menjaga agar semangat itu tetap hidup melalui pembinaan yang berkelanjutan,” tegasnya.

Ia juga berharap Kejurnas Tinju Piala Menko Infrastruktur 2026 dapat menjadi bagian penting dari proses regenerasi petinju nasional. Keikutsertaan atlet kategori junior, youth, dan elite memberikan ruang bagi perkembangan kemampuan pada berbagai tahapan karier olahraga.

Melalui kompetisi yang teratur, para atlet dapat memperoleh pengalaman menghadapi lawan dengan gaya bertanding yang berbeda, meningkatkan kepercayaan diri, dan membangun kesiapan mental untuk menghadapi kejuaraan yang lebih tinggi.

Hillary berharap penyelenggaraan kejuaraan serupa dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak daerah di Indonesia. Dengan demikian, potensi petinju dari berbagai wilayah memiliki peluang yang lebih luas untuk berkembang dan berkontribusi bagi prestasi nasional.

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan seorang atlet bukan hanya hasil kerja keras individu. Dukungan keluarga, pelatih, organisasi olahraga, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan atlet.

Sportivitas sebagai Fondasi Masa Depan Tinju Indonesia

Berakhirnya Kejurnas bukan berarti perjuangan para petinju selesai. Sebaliknya, kejuaraan menjadi titik awal untuk melakukan evaluasi, memperbaiki kekurangan, meningkatkan kualitas latihan, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan berikutnya.

Dalam pandangan Hillary, masa depan tinju Indonesia perlu dibangun melalui perpaduan antara semangat atlet, kualitas pembinaan, kompetisi yang berkesinambungan, dan dukungan kelembagaan yang jelas. Semua itu harus berjalan bersama agar atlet dapat berkembang secara optimal.

Sportivitas juga harus menjadi prinsip yang dipegang oleh seluruh pemangku kepentingan olahraga. Menghormati proses, mengedepankan profesionalisme, memberikan kesempatan yang adil, dan menempatkan kepentingan atlet sebagai prioritas merupakan langkah penting untuk memperkuat kepercayaan serta membangun prestasi yang berkelanjutan.

Dengan sejarah panjang PERTINA sejak 1959, Hillary berharap tinju Indonesia terus berkembang, melahirkan generasi petinju berkualitas, dan memperbesar peluang untuk bersaing di panggung olahraga dunia.

Pada akhirnya, nilai terbesar sebuah kejuaraan tidak hanya terlihat dari jumlah medali atau siapa yang berdiri sebagai pemenang. Nilai itu juga tercermin dari karakter yang terbentuk, persaudaraan yang terjalin, pengalaman yang diperoleh, serta semangat yang tetap menyala setelah pertandingan usai.

Bagi Hillary Brigitta Lasut, semangat juang atlet harus berjalan seiring dengan sportivitas. Tugas seluruh pemangku kepentingan adalah menjaga agar keduanya tumbuh melalui pembinaan yang adil, profesional, dan berkelanjutan demi masa depan tinju Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *